Program Imunisasi Heksavalen: Terobosan Baru Perlindungan Bagi Kesehatan Anak
Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang terbukti paling efektif dan efisien dalam mencegah penyakit menular yang dapat dicegah dengan vaksin (PD3I). Di Indonesia, program imunisasi telah berkembang pesat dan kini menghadirkan inovasi terbaru melalui program imunisasi Heksavalen
Berdasarkan kajian dan rekomendasi dari Komite Imunisasi Nasional (KIN), penggunaan vaksin DPT-HB-Hib-IPV (Heksavalen) dapat mengurangi pemberian suntikan imunisasi ganda serta meningkatkan cakupan vaksin IPV setara dengan cakupan DPT-HB-Hib. Program ini didukung oleh landasan hukum yang kuat, termasuk Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/345/2025 tentang Pelaksanaan Program Imunisasi Diphteria, Pertussis, Tetanus, Hepatitis B, Haemophilus Influenzae Type B, Inactivated Poliomyelitis.
Imunisasi Heksavalen adalah vaksin kombinasi yang menggabungkan enam antigen dalam satu suntikan, yaitu DPT-HB-Hib dan IPV. Vaksin ini mencegah enam penyakit sekaligus yaitu difteri sebagai penyakit infeksi bakteri yang menyerang saluran pernapasan, pertusis atau batuk rejan yang sangat menular dan berbahaya terutama pada bayi, tetanus yang merupakan infeksi bakteri menyerang sistem saraf, hepatitis B sebagai infeksi virus yang menyerang hati, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib) yang menjadi penyebab pneumonia dan meningitis pada anak, serta polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen.
Program imunisasi Heksavalen memberikan beberapa keuntungan signifikan dalam efisiensi pelayanan. Vaksin ini mengurangi jumlah suntikan pada bayi, meningkatkan cakupan imunisasi, mengurangi beban logistik dan waktu pelayanan. Sebelumnya, pada usia 4 bulan, bayi harus menerima dua suntikan terpisah (pentavalen dan IPV), namun dengan Heksavalen hanya diperlukan satu suntikan. Data menunjukkan terdapat gap cakupan imunisasi DPT-HB-Hib3 versus imunisasi IPV1 dengan rentang 9,9 – 50%, dan dengan vaksin kombinasi ini diharapkan cakupan IPV akan setara dengan cakupan DPT-HB-Hib yang sudah tinggi. Survei Nielsen Q2 2023 yang dilakukan UNICEF menunjukkan hampir 38% penolakan imunisasi disebabkan ketakutan terhadap suntikan ganda, sehingga program Heksavalen mengatasi kekhawatiran ini dengan memberikan perlindungan maksimal dalam sekali suntik.
Jadwal dan Sasaran Program
Jadwal Pemberian:
- Usia 2 bulan: DPT-HB-Hib-IPV (Heksavalen) dosis 1
- Usia 3 bulan: DPT-HB-Hib-IPV (Heksavalen) dosis 2
- Usia 4 bulan: DPT-HB-Hib-IPV (Heksavalen) dosis 3
Untuk anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, tersedia program imunisasi kejar hingga usia 59 bulan. Sasaran program meliputi bayi usia 2, 3, dan 4 bulan yang lahir setelah implementasi program dengan target cakupan minimal 95% untuk mencapai herd immunity. Pelayanan diberikan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan termasuk Puskesmas. Bagi anak yang terlewat imunisasinya masih dapat dikejar melalui program imunisasi kejar, kecuali pada HB0 yang tidak bisa diberikan jika anak sudah lebih dari 7 hari dan rotavirus tidak bisa diberikan pada anak usia lebih dari 7 bulan. Sasaran yang belum mendapatkan atau belum lengkap imunisasi Heksavalen harus segera diberikan sampai anak usia 59 bulan dengan interval minimal dosis ke-1 dan dosis ke-2 adalah 1 bulan, serta dosis ke-2 dan dosis ke-3 adalah 6 bulan untuk anak di atas usia 1 tahun.
Keamanan dan Efek Samping
Vaksin Heksavalen telah melalui proses uji yang panjang dan terbukti aman untuk diberikan. Pemberian imunisasi ganda sangat aman dan tidak berbahaya bagi anak. Reaksi yang mungkin terjadi berupa reaksi lokal seperti eritema di lokasi suntikan, nyeri lokal, pembengkakan, atau nodul. Reaksi sistemik yang dapat muncul antara lain menangis, iritabel atau rewel, demam, penurunan nafsu makan, mengantuk, muntah, atau ruam kulit. Semua reaksi ini umumnya ringan dan akan hilang dalam 1-2 hari.
Pemantauan dan Evaluasi
Program Heksavalen akan dipantau secara ketat melalui surveilans Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), evaluasi cakupan imunisasi dan Drop Out Rate, evaluasi perbandingan cakupan dengan imunisasi lain, Survei Cepat Komunitas (SCK), serta evaluasi hasil pelaporan surveilans PD3I. Pemantauan dilakukan sebelum pelaksanaan untuk mengidentifikasi kesiapan dan saat pelaksanaan melalui supervisi.
Pentingnya Imunisasi berkelanjutan pada saat bayi atau usia 1 tahun saja tidak cukup karena masih ada imunisasi lanjutan dan booster. Imunisasi ini terus berkelanjutan hingga usia sekolah seperti imunisasi MR untuk kelas 1, HPV untuk siswa putri kelas 5, Td pada anak kelas 2 dan 5, serta DT pada anak kelas 1. Bahkan imunisasi berlanjut pada Wanita Usia Subur (WUS) termasuk ibu hamil, menunjukkan bahwa perlindungan kesehatan melalui imunisasi adalah komitmen jangka panjang.
Program imunisasi Heksavalen merupakan upaya berkelanjutan untuk memberikan perlindungan optimal bagi anak-anak Indonesia. Setiap anak berhak memperoleh imunisasi sesuai ketentuan untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi lengkap sesuai jadwal penting untuk melindungi diri dari penyakit, dan imunisasi kejar merupakan upaya untuk memastikan semua anak mendapatkan imunisasi dan terlindungi dari PD3I. Mari bersama-sama mendukung program ini demi terciptanya generasi yang sehat dan kuat.

IMPLEMENTASI CORE VALUE ASN BERAKHLAK
Sinergi Lintas Sektor Diperkuat, Puskesmas Penebel II Bahas Kinerja dan Strategi Kesehatan Triwulan Pertama
Pelaksanaan Rapat Mini Lokakarya Ke-1 di UPTD Puskesmas Penebel II: Meningkatkan Kerjasama Tim dan Perencanaan Kegiatan Puskesmas
Upacara Peringatan Hari Bela Negara di UPTD Puskesmas Penebel II
Kalibrasi Alat Kesehatan di UPTD Puskesmas Penebel II untuk Menjamin Akurasi Layanan Kesehatan
Menuju Pelayanan Optimal: Rapat Minilokakarya Puskesmas Penebel II Bahas Kinerja dan ILP
UPTD Puskesmas Penebel II Gelar Minilokakarya Pertama untuk Penyelarasan Program dan Target Kinerja
Perkuat Sinergi Lintas Sektor, UPTD Puskesmas Penebel II Gelar Minilokakarya ke IV
PELAYANAN DOKTER SPESIALIS ANAK DAN KANDUNGAN HADIR DI UPTD PUSKESMAS PENEBEL II